ZAMAN menuntut Garebeg Besar Demak dikemas selaras dengan budaya yang sedang berkembang. Tidak cukup dengan hanya menghargai atas tradisi tokoh pendahulu, akan tetapi penerus atau pengunjung dan zaman pastinya juga punya tuntutan.
Pada hajatan peranyaan Garebeg Besar yang saat ini sedang berlangsung dan hanya setahun sekali di Kota Demak, ternyata pengunjung kecewa dan menilai kemasan perayaan belum sempurna.
Mereka tidak mendapati ”Demak” di perayaan ini.
Demak dengan tanda petik, penulis artikan tidak sekadar lokasi atau sejarah, akan tetapi sesuatu yang sudah menjadi kekhasan Demak dan membedakan dari daerah lain. Sesuatu yang sudah menjadi branding atau identitas yang melekat.
Pengunjung mengaku kecewa karena tidak dapat memperoleh buah khas: belimbing dan jambu air...
Selasa, 13 Maret 2012
Rabu, 01 Juli 2009
Cara 'Gila' Syekh Puji Sukses Entrepenuer
Kudus (ANTARA News) - Pujiono Cahyo Widianto atau yang terkenal dengan Syekh Puji membeberkan cara-cara menjadi seorang pengusaha dalam Talk Show "Cara Gila Menjadi Entrepenuer" yang digelar dalam rangka Dies Natalis Universitas Muria Kudus (UMK), Jateng, Sabtu.Menurut pemilik PT Sinar Lendoh Terong tersebut, untuk mencapai sukses menjadi seorang pengusaha bukan diraih dengan cara mudah dan justru diperlukan cara "gila" untuk mewujudkannya."Memang benar, membutuhkan cara yang `gila` untuk sukses berwiraswasta," katanya.Ia mengatakan, tidak semua orang berani mengambil keputusan menjadi pengusaha apalagi menjamin kesuksesan sehingga, butuh kebulatan tekad dan kecermatan.Menurut dia, syarat sebagai seorang pengusaha adalah harus tajam melihat peluang, berani mengambil keputusan dan motivasi...
Jumat, 29 Mei 2009
Sang Bapak IAIN Walisongo

Selasa, 17 Juli 2007 menjadi hari naas bagi IAIN Walisongo Semarang. Statusnya berubah menjadi yatim piatu. Hari itu, Bapak sekaligus Ibu IAIN; Drs Soenarto Notowidagdo yang “mengandung dan melahirkan IAIN” dipanggil oleh Allah SWT. Beliau meninggal di usia 75 tahun. Untuk mengenang ke-tujuh hari wafatnya, Rabu, 25 Juli 2007, bertempat di Masjid Al-Fitrah Kampus II, dilaksanakanlah Dzikir Tahlil. Tidak kurang 50 orang dengan khidmat memohon agar “sang bapak” diterima disisi-Nya. Sayang, dari sekian ribu cucu, hanya ‘segelintir’ yang datang. Lainnya?
Sosok Soenarto kurang (tidak) dikenal oleh kebanyakan Mahasiswa IAIN. Jasa besarnya lapuk dimakan...
Jumat, 24 April 2009
Menepis ”Bakat” Menulis
Selama ini, menulis sering dipahami sebagai bakat. Tidak ada gunanya bersusah payah berlatih menulis, apabila tidak punya bakat dalam menulis. Pandangan seperti inilah yang menyebabkan laju dunia tulis-menulis seperti stagnan.
Memang, budaya menulis belum sepenuhnya tercipta di sekitar kita. Karena itu, cara pandang ”bakat” tersebut harus segera dibuang dan ditepis jauh-jauh.
Penulis bukanlah titisan dewa. Setiap orang punya kesempatan untuk menjadi penulis. Skill penulisan seseorang bisa diasah. Bukan sekadar bakat, karena bakat masih bisa dikalahkan oleh proses latihan yang keras dan rutin.
Menjadi penulis tidak bisa instan, ada prosesnya. Latihan panjang perlu dilewati. Proses trial and error berlaku untuk menjadi penulis. Menulis seperti berbicara. Untuk bisa ngomong, harus mau mendengar....
Rabu, 26 November 2008
Membesarkan Kembali Garebeg Besar

GAREBEG Besar di Demak akan berlangsung mulai 27 November hingga 10 Desember mendatang. Namun, banyak kekhawatiran acara ini akan kehilangan identitas dan kesakralannya. Berganti menjadi momen euforia. Padahal, otentitas tradisi menjadi nilai lebih di mata internasional.
Fungsi tradisi tidak hanya sebagai perwujudan dari penghargaan terhadap warisan nenek moyang dengan melestarikannya. Tidak hanya nilai seni. Zaman sekarang, tradisi budaya dituntut bisa memberikan nilai ekonomi. Perkawinan nilai tradisi dan nilai ekonomi adalah sebuah keniscayaan. Budaya dikemas secara modern.
Semula, Garebeg Besar yang digelar setiap 10 Dzulhijjah ini dilaksanakan...
Kamis, 20 November 2008
Menyelamatkan Waduk Bengkah
DI Demak bagian selatan, ada dua buah waduk yang luput dari perhatian pemerintah kabupaten (pemkab) setempat. Keduanya tepat berada di barat daya Dusun Bengkah, Desa Wonosekar, Kecamatan Karangawen. Waduk Bengkah Wetan dan Waduk Bengkah Kulon, begitu mayarakat sekitar mengenalnya.
Nama Bengkah diambil dari letak kedua waduk tersebut yang berada di Dusun Bengkah, sedangkan kata “Wetan” dan “Kulon” karena letak keduanya bersebelahan di timur (wetan) dan barat (kulon). Dari fakta itu muncul panggilan Waduk Bengkah Wetan dan Waduk Bengkah Kulon.
Dulu, kedua waduk, terutama Bengkah Kulon, pernah mengalami kejayaan. Pesonanya mampu menarik minat masyarakat di daerah sekitar untuk mengunjunginya. Pernah saya bertemu seorang yang berasal dari Kecamatan Kedungjati, Grobogan, di Semarang. Kala berkenalan...