• Replace This Text With Your Featured Post 1 Description.
  • Replace This Text With Your Featured Post 2 Description.
  • Replace This Text With Your Featured Post 3 Description.
  • Replace This Text With Your Featured Post 4 Description.
Read more: http://pelajaran-blog.blogspot.com/2011/02/membuat-widget-gambar-slide-show.html#ixzz1zR5sFxpR

searchbox

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2012

Menyempurnakan Garebeg Demak

ZAMAN menuntut Garebeg Besar Demak dikemas selaras dengan budaya yang sedang berkembang. Tidak cukup dengan hanya menghargai atas tradisi tokoh pendahulu, akan tetapi penerus atau pengunjung dan zaman  pastinya juga punya tuntutan.

Pada hajatan peranyaan Garebeg Besar yang saat ini sedang berlangsung dan hanya setahun sekali di Kota Demak, ternyata pengunjung kecewa dan menilai kemasan perayaan belum sempurna.

Mereka tidak mendapati ”Demak” di perayaan ini.
Demak dengan tanda petik, penulis artikan tidak sekadar lokasi atau sejarah, akan tetapi sesuatu yang sudah menjadi kekhasan Demak dan membedakan dari daerah lain. Sesuatu yang sudah menjadi branding atau identitas yang melekat.

Pengunjung mengaku kecewa karena tidak dapat memperoleh buah khas: belimbing dan jambu air di pasar rakyat Garebeg Besar (SM,19/11). ”Acara sebesar ini kok tidak ada yang jualan belimbing dan jambu khas Demak. Rasanya kurang sempurna,” begitu kata pengunjung asal Pati, Salimin.

Menurut penulis, hal itu bukan hanya tuntutan Salimin melainkan sudah menjadi budaya massa yang sudah berkembang sehingga menjadi tuntutan zaman untuk mengemas Demak secara untuh dalam Garebeg Besar. Acara itu lebih dari sekadar menghidupkan tradisi, tapi juga sebagai wisata.

Wisata Religi

 Ketika menghadiri perayaan Garebeg Besar, pengunjung bukan hanya sekadar ingin berziarah, atau memeriahkan pasar rakyat, akan tetapi mereka sedang melakukan wisata religi.
Sekarang ini, wisata religi sudah menjadi kebutuhan manusia.

Manusia memiliki kewajiban dan hak, yang dalam praktik kesehariannya harus berjalan seiring dan berimbang. Begitu juga pengunjung Garebeg Besar, sehingga perayaan harus dikemas sebagai wisata religi. Mereka beribadah dan bangga dengan warisan tradisinya, sekaligus akan bergembira dengan berwisatanya.

Tradisi Garebeg bisa dimaknai kewajiban atau ibadah karena dalam agama Islam, juga lainnya, menganjurkan untuk berziarah ke makam orang yang dikasihi-Nya. Melalui berziarah di makam wali, Sunan Kalijaga, dan petinggi kerajaan Islam di Demak, pengunjung menghargai dengan berterima kasih dan mendoakan tokoh penyebar ajaran Islam, utamanya di Jawa.

Karena itu, Garebeg Besar mempunyai arti tersendiri bagi umat Islam nusantara.

Hal yang harus dipahami oleh Pemerintah Kabupaten Demak adalah pengunjung adalah sedang berwisata. Mereka ingin mengenal dan mengenang  Demak yang ketika itu sebagai ”Kerajaan Besar”.

Pengunjung juga ingin tahu perkembangannya serta melihat apa yang dimiliki selain warisan kerjaan besar.

Demak sebagai masa kini itulah yang ternyata belum disajikan dalam perayaan Garebeg Besar, karena ternyata belum mampu terpenuhi. Pengunjung yang sedang berwisata akan senang ketika mereka mendapati dan mengenal identitas tempat yang dikunjungi.

Tempat yang pada masa lalunya memiliki peran besar sehingga dikenang dan tercatat dalam sejarah. Sisa masa lalu dan sekarang  seperti apa dan apa yang dapat dibawa itulah yang pengunjung ingin peroleh dari Grebeg Besar.

Branding atau cap Demak terkenal dengan ”Demak Kota Wali” karena dalam sejarah, Demak menjadi lokasi pertama kerjaan Islam di Jawa dan menjadi pusat penyebaran Islam oleh Walisongo. Wilayah ini punya peran besar dalam maju pesatnya penyebaran Islam ketika itu.

Selain sebagai Kota Wali, Demak juga telah diidentik dengan belimbing. Saat ini, jambu delimo dan citra. Buah ini seolah sudah setara dengan slogan ”Kota Wali” menjadi ikon Demak.

Sederhananya, orang mengenal Demak sebagai ”Kota Wali” secara religi dan secara agro atau pertanian punya produk khas dari daerah lain, yakni belimbing, jambu delimo dan citra. Orang ingin merasakan itu ketika melewati Demak dan mengunjungi perayaan Garebeg Besar.

Identitas atau branding tersebut, bagi mayoritas orang yang melewati dan berkunjung ke Demak, mewajibkan diri untuk membawanya sebagai oleh-oleh atau buah tangan khas.
Melalui buah tangan yang dibawa, orang bisa ditebak ke mana orang tersebut berkunjung atau berwisata.

Dan kebanggaan orang pergi berwisata adalah ketika mereka kembali dengan buah tangan tempat wisata yang dikunjungi.

Orang dari bepergian dengan buah tangan belimbing dan jambu delima atau citra, atau cinderamata berupa gambar Masjid Demak, bisa dipastikan dan ditebak habis bepergian dari Demak. Buah tangan menunjukkan telah dari mana orang tersebut.

Sekarang ini, Garebeg besar bukan lagi sekadar ibadah berupa ziarah ke makam tokoh agama, akan tetapi sudah menjadi wisata religi.

Sehingga wajar jika pengunjung menuntut penyajian identitas atau branding Demak pada masa lalu dan masa kini untuk disajikan dalam Garebeg Besar.  (10)

— Farih Lidinnillah, warga Demak, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan mantan Pemimpin Umum SKM Amanat IAIN Walisongo (/
WACANA (Suara Merdeka, 26 November 2009)
Menyempurnakan Garebeg Demak
 

Jumat, 24 April 2009

Menepis ”Bakat” Menulis

Selama ini, menulis sering dipahami sebagai bakat. Tidak ada gunanya bersusah payah berlatih menulis, apabila tidak punya bakat dalam menulis. Pandangan seperti inilah yang menyebabkan laju dunia tulis-menulis seperti stagnan.

Memang, budaya menulis belum sepenuhnya tercipta di sekitar kita. Karena itu, cara pandang ”bakat” tersebut harus segera dibuang dan ditepis jauh-jauh.
Penulis bukanlah titisan dewa. Setiap orang punya kesempatan untuk menjadi penulis. Skill penulisan seseorang bisa diasah. Bukan sekadar bakat, karena bakat masih bisa dikalahkan oleh proses latihan yang keras dan rutin.

Menjadi penulis tidak bisa instan, ada prosesnya. Latihan panjang perlu dilewati. Proses trial and error berlaku untuk menjadi penulis. Menulis seperti berbicara. Untuk bisa ngomong, harus mau mendengar. Untuk memiliki kemampuan menulis, membaca harus dilakoni.

Sebagian besar ide dalam tulisan berasal dari membaca. Kosa kata, cara mengungkapkan, dan style menulis bisa diperoleh dari banyak membaca. Karenanya, agar menulis itu gampang, perbanyaklah membaca terutama membaca karya tulis orang lain.

Kerja menulis juga tidak bisa disepelekan. Apalagi untuk menjadi penulis di koran-koran umum. Sebab bukan hanya keterampilan menulis saja yang diperlukan. Aktualitas tema dan angle pun menjadi pertimbangan sendiri untuk dimuat. Selain itu, penulis pun akan berkompetisi ketat dengan penulis-penulis yang lain.

Kesungguhan untuk menulis harus dipupuk agar selalu tegar dan sabar dalam menghadapi pernak-pernik tantangan di ranah ini. Seperti yang sudah menjadi hal biasa, meskipun segala kemampuan dan usaha keras sudah kita kerahkan, hasilnya tulisan tidak dimuat. Ini harus selalu dihadapi dengan perbaikan kualitas tulisan kita.

Lembaga pers mahasiswa dan blog sebenarnya bisa bermanfaat sebagai wahana menempa keterampilan dan ekspresi diri. Berbekal keduanya, teori penulisan dan teman menulis, bahkan komunitas, akan menjadikan kualitas tulisan lebih baik. Blog pun bisa menjadi curahan, jika dengan terpaksa hasil torehan pena belum diberikan ruang di harian profit.

Bukan bakat. Untuk menjadi penulis, niat, kesungguhan dan proses trial and error lebih menentukan. Toh jika menulis itu bakat, bakat itu melekat pada semua orang.

Bakat menulis merupakan akumulasi dari proses menulis. Artinya, kemampuan menulis merupakan bakat yang muncul ketika terus diasah. Tanpa kemauan untuk mengasah diri, maka kemampuan tersebut tak akan muncul!

(Farih Lidinnillah, mantan pemimpin umum SKM Amanat IAIN Walisongo, Semarang-32) pada SM/21 Maret 2009/Forum Halaman Kampus (FHK). Link : Menepis Bakat Menulis

Rabu, 26 November 2008

Membesarkan Kembali Garebeg Besar


GAREBEG Besar di Demak akan berlangsung mulai 27 November hingga 10 Desember mendatang. Namun, banyak kekhawatiran acara ini akan kehilangan identitas dan kesakralannya. Berganti menjadi momen euforia. Padahal, otentitas tradisi menjadi nilai lebih di mata internasional.

Fungsi tradisi tidak hanya sebagai perwujudan dari penghargaan terhadap warisan nenek moyang dengan melestarikannya. Tidak hanya nilai seni. Zaman sekarang, tradisi budaya dituntut bisa memberikan nilai ekonomi. Perkawinan nilai tradisi dan nilai ekonomi adalah sebuah keniscayaan. Budaya dikemas secara modern.

Semula, Garebeg Besar yang digelar setiap 10 Dzulhijjah ini dilaksanakan untuk memeringati Hari Raya Idul Adha dan berlangsung di lingkungan Masjid Agung Demak. Selain itu, diselenggarakan pula keramaian (garebeg) yang disisipi syiar-syiar keagamaan sebagai upaya penyebarluasan Islam oleh Walisongo.

Garebeg Besar mempunyai arti tersendiri bagi umat Islam. Tidak hanya bagi warga Demak, kawasan Kedungsapur juga turut serta dalam memeriahkan kegiatan ini. Sebuah kekayaan budaya warisan kerajaan Demak yang bernilai.

Kehilangan Arah

Namun, lambat laun, Garebeg Besar mulai kehilangan arah. Yang terlihat bukan lagi pelestarian tradisi, melainkan telah melenceng dan larut oleh aneka permainan dan hiburan ngepop.

Dari tahun ke tahun, kesan glamour seolah menjadi grand tema. Artis Ibu Kota didatangkan, dalihnya menarik minat penunjung. Tahun kemarin Didi Kempot dan Dara AFI, sedangkan tahun ini akan menghadirkan Wali Band dan Monata Dangdut dari Sidoarjo (Jatim).

Rangkain perayaan pun diisi festival band, kontes penyanyi dangdut, dan parade musik R&B. Selain itu, arena Garebeg di Lapangan Tembiring Joglo Indah juga terlalu dipenuhi dengan berbagai jenis permainan. Diantaranya komedi putar, tong setan, tong medan, dan sirkus.

Acara puncak, yaitu kirab pusaka setelah shalat id, pun karam oleh hiburan-hiburan yang tidak senafas dengan nilai agama. Ya, perayaan budaya yang mestinya menjadi momen menelusuri jejak dan nilai-nilai cita, rasa dan karsa yang telah ditorehkan nenek-moyang, malah menjadi arena hura-hura, menghibur diri. Akhirnya, menghibur diri lebih diutamakan warga yang hadir ketimbang berziarah ke makam tokoh agama dan kerajaan, melacak warisan peninggalan kerajaan, dan apalagi ikut puncak Garebeg. Lewat pengelolaan yang menomorsekiankan nilai tradisi, mungkinkah Garebeg Besar akan dipandang khalayak nasional, bahkan mancanegara? Bisa dipastikan, dilirik pun tidak.

Pelestarian tradisi dalam Garebeg Besar kini malah dipertanyakan. Pengemasannya perlu dikaji ulang, untuk kemudian dicari format yang pas. Jika tidak, lambat laun, Garebeg Besar sebagai budaya hanya akan tinggal nama. Asing bagi pewarisnya.

Bagaimana melestarikan tradisi dan pengemasan yang menghasilkan nilai ekonomi tanpa menghilangkan keasliannya sudah dipraktikkan beberapa kota di Indonesia. Terbukti Yogyakarta, Solo, dan Bali mampu menghiasi mata internasional. Melalui pelestarian tradisi, banyak yang mereka raih, lebih dari sekadar pendapatan.

Revitalisasi

Sebuah kebanggaan tersendiri jika kedepan, Demak sebagai tempat bertenggernya kerajaan Islam pertama di Jawa dikenal di mata internasional melalui pelestarian tradisinya. Garebeg Besar harus dikelola secara maksimal dan terarah, agar menjadi wisata religi dan budaya.

Besaran aktivitas menghadiri acara malam hari raya Idul Adha seolah telah menjadi keharusan bagi warga Demak dan kota-kota sekitar. Warga desa berduyun-duyun menuju lokasi perayaan. Tumplek bleg, menyatu di arena Grebeg dan sekitarnya.

Momen puncak berkumpulnya warga ini mestinya menjadi kesempatan masyarakat untuk belajar tentang identitas mereka yang telah dibangun masa lampau. Warisan sisa kerajaan masa itu perlu dikenal dan dekatkan kepada masyarakat.

Grebeg yang oleh Walisongo dimanfaatkan untuk menyebarluasan agama Islam jangan sampai hilang kesakralannya oleh hiburan-hiburan. Pengemasan perayaan pun perlu melibatkan warga yang tidak hanya berhenti sebagai pemirsa, tapi juga aktif mengisi rangkaian acara.

Dengan demikian, selain menghidupkan tradisi dan mengenal warisan kerajaan, Garebeg Besar menjadi momen Demak menunjukkan eksistensinya. Konser dangdut atau band selayaknya diganti dengan kekayaan Demak dan sekitar.

Acara yang berlangsung selama dua minggu itu mestinya benar-benar menjadi wahana bagi masyarakat Demak untuk menampilkan kekayaan daerahnya, baik berupa karya seni, makanan atau hasil bumi khas. Melaluinya, akan timbul sense of belonging warga terhadap tradisinya. Dan Garebeg Besar menjadi kebanggaan pemerintah dan warga.

Swastanisasi pengelolaan Garebeg Besar, yang sudah berjalan dua tahun terakhir, seharusnya tidak menjerumuskannya ke jurang komersialisasi dan penafian nilai-nilai tradisi dan ritual budaya. Selama ini, fokus pengelolaannya adalah bagaimana mengejar peningkatan pendapatan daerah. Tidak menguri-uri tradisi warisan.

Perpaduan nilai tradisi dan ekonomi seharusnya tidak menafikan salah satunya. Jangan sampai terjebak oleh pengejaran pendapatan daerah berkedok formasitas upacara budaya, tanpa menghadirkan makna. Jika tidak, Garebeg Besar akhirnya hanya tinggal nama. (32)

—Farih Lidinnillah, warga Demak, mahasiwa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Pada rubrik Wacana Lokal (SM)/24 November 2008. Link : Membesarkan Kembali Garebeg Besar 

Kamis, 20 November 2008

Menyelamatkan Waduk Bengkah

DI Demak bagian selatan, ada dua buah waduk yang luput dari perhatian pemerintah kabupaten (pemkab) setempat. Keduanya tepat berada di barat daya Dusun Bengkah, Desa Wonosekar, Kecamatan Karangawen. Waduk Bengkah Wetan dan Waduk Bengkah Kulon, begitu mayarakat sekitar mengenalnya.

Nama Bengkah diambil dari letak kedua waduk tersebut yang berada di Dusun Bengkah, sedangkan kata “Wetan” dan “Kulon” karena letak keduanya bersebelahan di timur (wetan) dan barat (kulon). Dari fakta itu muncul panggilan Waduk Bengkah Wetan dan Waduk Bengkah Kulon.

Dulu, kedua waduk, terutama Bengkah Kulon, pernah mengalami kejayaan. Pesonanya mampu menarik minat masyarakat di daerah sekitar untuk mengunjunginya. Pernah saya bertemu seorang yang berasal dari Kecamatan Kedungjati, Grobogan, di Semarang. Kala berkenalan dan ngobrol, ia sempat menanyakan kabar waduk tersebut.

Pasalnya, dulu semasa di sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), ia sering main ke Waduk Bengkah dengan bersepeda onthel bersama teman-temannya. Asyik, begitu komentarnya mengenang masa itu.

Benar, ketika masih duduk di sekolah dasar (SD), saya juga sering diajak guru kelas untuk main ke kedua waduk itu. Tidak hanya indah, tapi pepohonan dan hutan yang terletak di antara kedua waduk juga terasa segar dan alami. Jadi, selain bermanfaat bagi pengairan sawah petani sekitar, waduk tersebut juga menjadi tempat refreshing.

Tanpa Perawatan

Sekarang, kedua waduk itu tidak banyak dikenal masyarakat. Pasalnya, sejak 1998 keberadaannya tanpa disentuh perawatan. Keduanya menjadi tiada fungsi sebagaimana waduk pada umumnya. Parahnya lagi, ada pihak yang tak bertanggung jawab dengan memanfaatkannya sebagai lahan pertanian. padi dan palawija.

Padahal, ketika browsing di situs wikimapia.org, saya menemukannya di jejak maya. Sungguh disayangkan, ketika dalam kenyataannya sudah tidak bisa dikunjungi, malah jejaknya terlihat di internet.

Sebenarnya, persoalan mayarakat sekitar, yakni kekurangan air (untuk pengairan sawah) seperti yang terjadi di musim kemarau sekarang, bisa ditanggulangi oleh berfungsinya waduk. Atau, ketika musim penghujan tiba, waduk tidak lagi bisa menampung air hujan, sehingga tanaman sawah rusak karena genangan air.

Sebelum terlambat, masalah tersebut sebenarnya bisa diminimalisasi dengan kembali memfungsikan kedua waduk. Fungsi Waduk Bengkah sebagai sumber mata air perlu dikembalikan, juga sebagai wisata alam. Perlu kepedulian dari Pemkab Demak dan kerja sama dengan warga untuk mewujudkannya.

Haus masyarakat akan wisata alam perlu direspons oleh pemkab setempat untuk lebih mengenalkan Demak bagian selatan. Manajemen yang jelas diperlukan demi kelangsungan perawatan waduk. Penduduk dusun setempat juga harus dilibatkan dalam pengelolaan. Tidak seperti dulu, tidak ada kejelasan pengelolaan yang berakibat kepada miskinnya fasilitas, bahkan tidak berfungsinya waduk seperti sekarang.

Wisata Alam

Kedua waduk tersebut bisa menjadi sarana untuk mengenalkan Demak lebih jauh. Pasalnya, ketiga wisata (Masjid Agung Demak, Makam Sunan Kalijaga dan Pantai Morosari) berada di Demak bagian utara. Sementara itu bagian selatan belum ada.

Waduk Bengkah punya potensi besar. Fungsinya tidak melulu sebagai sarana irigasi untuk mengatur keseimbangan alam. Berbagai aktivitas menyenangkan bisa dilakukan di sekitarnya dengan pengadaan berbagai fasilitas, yakni menjadikannya sebagai tempat wisata.

Sekarang, wisata alam merupakan tempat refreshing menarik yang diminati masyarakat. Juga out bond sebagai model pembelajaran alam yang kian semarak di berbagai lembaga pendidikan, akan bisa menjaring pengunjung dari kalangan tersendiri.

Oleh karena itu, rekonstruksi atas waduk sebagai sarana irigasi dan tempat wisata serta pendidikan alam perlu dilakukan. Berenangan, memancing, berperahu dayung, dan bermacam permainan modern yang menarik, bisa ditawarkan di Bengkah.

Selain itu, suasana perbukitan berikut dengan rindangnya pepohonan dan riak air, sekarang, menjadi suasana alami yang sulit ditemukan. Penyediaan sarana perkemahan dan penyediaan berbagai sarana permainan edukasi, juga perlu disediakan dan ditata sedemikian rupa.

Akhirnya, masa lalu lancarnya irigasi bagi petani sekitar dan bersepeda onthel menuju ke kedua waduk itu, kemudian berenang, memancing, dan bermain di alam bebas sekitar yang sebelumnya pernah dijalankan oleh masyarakat, kembali terulang. Bahkan lebih dari itu, Demak akan lebih dikenal oleh masyarakat luas. Bukankah demikian, Bapak Bupati? (68)

– Farih Lidinnillah, warga Desa Wonosekar, mahasiwa IAIN Walisongo Semarang dan aktif di Lekas (Lembaga Kajian Agama dan Sosial) Semarang. Pada rubrik Wacana Lokal, Suara Merdeka (SM) 25 September 2008. Link : Menyelamatkan Waduk Bengkah

 
Didesain oleh Puskindo | Dipersembahkan untuk Sivitas Akademika - Universitas Muria Kudus